Bagaimana Saya Ditempatkan di Jakarta

Masih terbayang sedih dan shocknya ketika pertama kali mendapat kabar bahwa saya akan ditempatkan di Jakarta.

Seharusnya yang mendapat kesempatan untuk berkarier di Jakarta hanya yang pintar-pintar saja.

Dan saya termasuk orang yang di kategori, “tidak begitu pintar”.

Di angkatan tahun sebelumnya (kakak tingkat, biasanya disebut), hanya peringkat (ranking) 10 besar yang mendapat penempatan di Jakarta.

Dan 10 ranking terbawah “stay” (tetap) di Palembang.

Mengetahui kabar dan tata cara pengalokasian penempatan seperti itu, saya sudah merancang sebuah teknik yang memungkinkan saya untuk berada di peringkat bawah namun tetap lulus (tidak dibawah ambang batas nilai minimal).

scientist using microscope, meneliti, menciptakan teknik, mencurangi sistem, cheating the system,
Photo by Chokniti Khongchum on <a href=httpswwwpexelscomphotoscientist using microscope 3938022 rel=nofollow>Pexelscom<a>

Untuk diketahui bahwa di sekolah kedinasan itu, anda harus minimal (paling rendah) mencapai nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,6.

Di bawah nilai itu, anda akan secara otomatis Dropped Out (DO), momok mengerikan bagi setiap mahasiswa yang tidak tahu masa depan seperti apa yang akan mereka dapatkan.

Dan itu terbukti, 2 (dua) orang teman saya “gugur” di DO di 2 (dua) semester yang berbeda.

Lalu teknik seperti apa yang saya gunakan?

Untuk menjamin keberhasilan penggunaan teknik dimaksud, pada setiap Ujian Akhir Semester, saya mau tidak mau harus keluar lama, walaupun sudah selesai mengerjakan ujian.

Karena saya harus menghitung jumlah jawaban yang benar, untuk mencapai nilai hanya sebesar 60% (enam puluh persen) atau paling banyak 70% (tujuh puluh persen) dari total nilai total yang bisa dicapai yaitu 100% (seratus persen).

Hal itu terus menerus saya lakukan setiap hari selama Ujian Akhir Semester, hingga orang terdekat saya saat itu merasa curiga dan bertanya,

“Ang (panggilan dia ke saya), kenapa qe lama sekali keluar (dari mengerjakan ujian), susah soalnya?”

Qe = kamu (dalam bahasa daerah dimana dia berasal).

Sambil tersenyum saya menjawab, “nggak juga, cuma ada yang ‘salah’ tadi, makanya aku perbaiki dulu.”

Saya sangat amat anti berbohong, tapi memang terkadang suka menyelipkan “kebenaran yang tidak perlu dijelaskan” dalam kalimat saya ketika ada pertanyaan yang bersifat curigation (curiga dot com) seperti itu.

“Oo, qe waktu UTS (Ujian Tengah Semester), selalu keluar duluan, macam dikejar setan, kenapa pas UAS qe lama kali keluarnya. Bosan **** (namanya) nunggu qe keluar lah”,

“Ooh gitu, emang gimana caranya biar kamu nggak bosan?”

“**** mau lajan-lajan, yuk! Biar nggak suntuk”, dia menjawab dengan senyum, mengabaikan rasa curiga dan penasaran yang dia utarakan sebelumnya.

Bahasa lajan-lajan itu artinya jalan-jalan, dia suka sekali memutarbalikkan suku kata yang menurutnya lucu kalau diutarakan.

Such a beautiful and smart person I were to describe her.

(Orang yang cantik dan pintar, menurut saya).

Wait (tunggu dulu), kenapa saya malah cerita tentang dia?

i hate nothing about you with red heart light, saya tidak benci, sampai sekarang saya masih mengagumimu,
<sup>Photo by Designecologist on <a href=httpswwwpexelscomphotoi hate nothing about you with red heart light 887353 rel=nofollow>Pexelscom<a><sup>

Hahaha, anyway back to the main story (kembali ke cerita utama), teknik itu berhasil tapi kurang lebih sekitar 1 (satu) minggu kemudian, saya dipanggil untuk menghadap “Kepala Sekolah” kedinasan yang berwenang di situ.

“K*****, kenapa nilai kamu turun?”

Kata Ibu Kepala Sekolah saat itu dengan tajam, yang diikuti dengan deg-degan detak jantung saya.

“Padahal nilai kamu selalu bagus sebelumnya, ini jauh banget lho dari biasanya”.

Beragam pikiran dan kecemasan langsung merasuki otak saya, “kenapa saya “bodoh” dicurigai?”,

Begitu kalimat yang berontak di otak saya, “bukankah saya punya hak untuk (menjadi orang) bodoh?”

Tapi dengan sedikit tersenyum kecut dan “gemetaran”, saya hanya menjawab,

“Saat itu (saat ujian/test), saya sedang kurang enak badan Bu”.

“Ooh begitu…baiklah kalau begitu.”, kata Ibu Kepala Sekolah Kedinasan, yang tetap memandangi ke arah kertas-kertas hasil ujian yang terpampang di depannya.

Kalau saya ingat-ingat lagi sekarang (reka ulang kejadian di kepala), saat itu ada beberapa kertas yang berjajar di depan beliau.

(Yes I know now, it was all my test results), saya sekarang baru sadar kalau yang dijajarkan dan diperhatikan adalah hasil ujian saya selama 2 (dua) minggu berturut-turut.

Dengan nilai kebenaran yang stabil sekitar 60-70% (enam puluh sampai tujuh puluh persen) rata dan sama selama 7 (tujuh) hari berturut-turut! Uwow.

Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga.

(Peribahasa Bahasa Indonesia)

“Kenapa Bu, apakah saya tidak lulus?”

Dengan sedikit cemas dan agak pucat, saya bertanya ke beliau.

Karena, ada hal apa sampai saya dipanggil menghadap beliau (sebelumnya tidak pernah), dan kenapa beliau yang biasanya suka men-DO orang begitu saja, sampai memanggil saya.

Sekedar info tambahan, Ibu “Kepala Sekolah” ini terkenal tidak pernah membantu siswa sekolah kedinasan itu untuk alasan apapun.

“Tidak”, kata Beliau, “nilai kamu cukup (untuk lulus), tapi ini aneh sekali…nilai kamu turun saat UAS”, sambil terus memperhatikan kertas-kertas yang ada di mejanya.

“Ooh…”, saya hanya mengutarakan kata itu, sedangkan dalam hati saya bersorak gembira,

“Yes!! Saya lulus.”

Kenapa saya senang?

Karena hanya saya yang (tidak sengaja) tahu bahwa saya (sudah) lulus diantara siswa-siswa sekolah kedinasan lain yang berada satu angkatan sama saya.

In the middle of the confusions (di tengah kebingungannya), ternyata Ibu itu tidak sengaja menginfokan bahwa saya (masuk kategori) lulus.

“Ya, udah gak apa-apa”, kata Ibu itu, sambil membebaskan saya dari alasan beliau memanggil saya.

man in red crew neck sweatshirt photography Alhamdulillah lulus
<sup>Photo by Andrea Piacquadio on <a href=httpswwwpexelscomphotoman in red crew neck sweatshirt photography 941693 rel=nofollow>Pexelscom<a><sup>

Tapi apa yang terjadi berikutnya sungguh di luar perkiraan saya.

Kurang lebih 1 (satu) bulan kemudian, pengumuman nilai dan peringkat pun keluar.

Beberapa siswa sekolah kedinasan (hampir semua) berkumpul di depan papan pengumuman, dan saya bersama orang terdekat saya (saat itu) pun mendekat ke arah papan pengumuman.

Saat melihat papan pengumuman, saya mendapati bahwa “orang terdekat saya (saat itu) berada di peringkat belasan, sedangkan saya berada di peringkat 10 (sepuluh) besar terakhir.

“Alhamdulillah”, pikir saya, “saya tidak (ditempatkan) di Jakarta.

Tiba-tiba kegaduhan muncul, dan seorang siswi menangis, dikelilingi para siswi dan siswa lain yang berusaha menenangkannya.

Ternyata ada satu siswi yang tidak lulus alias DO, karena nilai IPnya tidak mencukupi batas bawah kelulusan.

Saya turut memperhatikan, karena yang tidak lulus adalah salah satu teman dari orang terdekat saya (saat itu.

Saya sangat jarang melihat apalagi memperhatikan wanita yang “tidak ada hubungannya dengan saya”, karena menurut saya, itu sama saja dengan mengkhianati orang “yang ada hubungannya dengan saya”.

“Kasihan juga”, saya pikir, “padahal garis tipis ini hanya sekedar batu kerikil untuk dilompati, tapi ada yang tersandung juga”.

“**** (orang terdekat ‘saat itu’) pasti sedih, walaupun dia seharusnya senang karena dia lulus dan akhirnya bisa punya banyak uang sendiri (dibandingkan) uang sakunya saat ini”.

Sambil empati, saya mengalihkan pandangan saya ke arah papan pengumuman untuk melihat berapa nilai teman yang tidak lulus tadi.

Tidak jauh berbeda sama nilai IP saya, hanya beda koma, padahal, menurut saya, Ibu Kepala Sekolah Kedinasan bisa saja berbaik hati, dengan meluluskannya.

Tapi tidak dia lakukan, sesuai reputasi beliau yang saya dengar selama ini.

Lalu saya menelusuri ke arah kanan, di situ nama dan nilai Indeks Prestasi Kimulatif (IPK) saya terpampang hanya beberapa centimeter di atas batas bawah kertas pengumuman itu.

“Hahaha, saya berhasil (peringkat bawah), YES!!!”

Nilai tidak masalah, orang tua saya tidak pernah mempermasalahkan nilai, sepanjang saya berhasil lulus.

Lalu rasa penasaran saya melihat lagi kertas pengumuman di sebelahnya, PENEMPATAN.

》》》 “K***** *** ******* Penempatan: JAKARTA”《《《

Sesak rasanya, rasanya saya ingin menjerit dan memecahkan kaca yang melindungi kertas pengumuman itu.

Uwoo, sampai sekarang pun saya masih kesal kalau ingat itu.

Bagaimana tidak, saya sudah merancang teknik yang sudah sedemikian sophisticated (rapi hampir tidak terdeksi, menurut saya) dan kerja keras (yang tidak perlu) untuk mensukseskan rencana saya, tapi hasilnya saya mendapatkan penempatan di Jakarta.

Melirik ke arah orang terdekat saya (saat itu), ternyata dia masih menenangkan dan memeluk temannya yang ter-DO dan masih terduduk lemah di lantai tanah bebatuan di dekat papan pengumuman.

Saya bisa mengerti kenapa dia lebih memperhatikan temannya saat itu.

Walaupun saya ingin segera pergi meninggalkan tempat itu, saya tidak bisa, karena orang terdekat saya (saat itu), masih ada “tugas lain”.

shallow focus photography of man wearing red polo shirt
<sup>Photo by Nathan Cowley on <a href=httpswwwpexelscomphotoshallow focus photography of man wearing red polo shirt 920036 rel=nofollow>Pexelscom<a><sup>

Sambil menunggu “tugas lain” orang terdekat saya (saat itu) selesai, saya berpikir,

“Kenapa seperti ini, padahal tahun lalu, hanya peringkat atas yang (ditempatkan) di Jakarta?”.

Ternyata, dengan kewenangan yang dimilikinya, Ibu Kepala Sekolah Kedinasan itu, mungkin emosi dan/atau marah karena ada yang mencoba “mencurangi” sistem yang selama ini berjalan dengan baik.

Dan untuk membalas itu, beliau, yang memang pintar dan cerdas pun, mengidentifikasi, menganalisa, dan menyiapkan “jawaban” yang menurut beliaymu tepat, untuk “tantangan” yang ditemukannya itu.

Setelah saya pikir sekarang, ternyata itu mungkin salah satu alasan kenapa pengumumannya baru keluar setelah agak lama, biasanya 2 (minggu) sudah keluar.

Kenyataan bahwa sang Ibu Kepala Sekolah Kedinasan itu, tidak sebaik apa yang selama saya pikir.

Saya sebelumnya berpikir bahwa dia peduli dan mau menolong saya, saat dia memanggil saya terkait hasil ujian bulan sebelumnya.

Ternyata saat itu dia sedang menyelidiki saya dan ingin melihat langsung reaksi saya saat “ketahuan”.

Kesimpulan saya bahwa”bahwa beliau bukan tipe orang baik” pun selaras dengan di DOnya teman dari orang terdekat saya (saat itu), keduanya masih menangis sesengukan di depan saya.

Saya saat itu berpikir, “apa saya keluar saja?”

Saya pernah melakukan ini sebelumnya, walk out (keluar) dari salah satu Universitas Negeri terluas yang ada di Indonesia, tanpa beban walaupun akreditasi jurusan yang saya ambil adalah A, dan termasuk jurusan elite di mata orang lain.

Mungkin saya bisa melakukan itu, tapi:

**** (nama orang terdekat saya ‘saat itu’) ada di situ, tidak mungkin hanya karena saya tidak mau (ditempatkan) di Jakarta, saya meninggalkannya.

Apalagi ternyata, baru saya ketahui belakangan bahwa ada yang namanya ikatan dinas.

Dalam hal anda keluar dari ikatan dinas, anda wajib membayar Rp. 30 Juta (tiga puluh juta rupiah).

Yang mana kalau saya lakukan itu (keluar ikatan dinas), persentase kemungkinan saya digaplokin orang tua saya adalah sebesar 350% (tiga ratus lima puluh persen). 《– ilmu pasti (exact science)

Menimbang dan Mengingat ketiga alasan di atas, saya Memutuskan untuk mengikuti kemana arah takdir ini.

Takdiiiiiir!!!

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil Hamd”

(Itu Takbir, bukan takdir namanya blok)

Sejak itulah saya kemudian ditempatkan di Jakarta, kota liar seribu cerita yang merupakan pusat urbanisasi di Indonesia.

Di sisi baiknya, saya mendapat beberapa ilmu dan pengalaman yang saya pahami bahwa tidak akan pernah saya dapatkan kalau saya tidak di Jakarta.

Mulai dari ibu kost yang memberi saya wine (minuman mahal dari sari anggur) saat saya sakit, sampai ibu kost yang mau membantu memberi makan ikan hias peliharaan saya saat saya keluar kota.

Ada juga ibu kost mantan model yang (terindikasi mungkin) dihamili oleh teman saya.

Banyak pengalaman aneh tapi nyata dan menarik yang saya dapatkan selama saya di Jakarta.

Jadi, tidak semua yang kamu tidak sukai itu burik, eh, buruk.

Sebagaimana kata Tuhan saya,

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

“Oh, I miss my God, but I still have a lot to do on earth before He’d called me back”

Sampai bertemu lagi, mungkin ada cerita menarik atau sekedar berbagi ilmu pengetahuan ke depannya, who knows (siapa tahu) bisa bermanfaat.

Terima kasih sudah menyempatkan diri mengunjungi website NKRI.one dan membaca artikel yang kami tulis sendiri, dijamin original tanpa menjiplak karya orang lain.

Terima Kasih atas kunjungan dan komentarnya di NKRI One

Most Read
Scroll to Top