Aku Bisa Berkata Kejam, Tapi Rasa Cintaku (Kepadamu) Biasanya Tidak Hilang
Aku bukan tipe orang yang pandai menutupi emosi, bahkan kejam melebihi manusia standar.
Dan ketika aku marah, aku bisa terlihat dingin, tajam, bahkan seperti setan.
Tapi satu hal yang selalu sama — rasa cintaku kepadamu biasanya tidak pernah hilang (I will only masked it to look cold and cruel).
Aku hanya manusia yang masih belajar bersabar.
Dan kadang, ketika sabar karena kesal itu penuh dan tidak punya tempat lagi untuk disimpan,
aku harus menyampaikannya,
bukan karena aku sudah muak (sudah muak), tapi karena aku juga peduli.
Aku tidak memaksamu mendengarku, kamu bisa pergi dariku kapanpun, dan tidak perlu mendengarkanku,
aku tidak memaksamu untuk bersamaku, aku malah lebih senang kalau kamu pergi dari aku. (karena sebenarnya aku tidak melihat manfaat apapun darimu untukku, tapi aku stay aja, karena melihat kamu masih butuh aku)
1. Aku Tidak Suka Mengingatkan Hal yang Harusnya Kamu Sudah Tahu
Aku jarang marah untuk hal kecil, bahkan aku kadang mengabaikannya saja ketika kamu membuat kesalahan/kebodohan kecil.
Aku jarang menegur, apalagi berdebat soal hal sepele.
Bukan karena aku tidak peduli atau tidak tahu, tapi karena aku percaya kamu (seharusnya) cukup pintar untuk tahu sendiri.
Aku percaya kamu bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah.
Mana yang bodh, mana yang cerdas.
Aku percaya kamu bisa menentukan prioritas tanpa aku harus terus-terusan jadi “guru kehidupanmu.”
Tapi kalau ternyata kamu terus mengulangi hal-hal bodoh yang sama,
jangan salahkan aku kalau aku akhirnya jadi “Demonic Krisna” yang bicara keras, berkata kejam, dengan tatapan dingin dan tajam, mengeluarkan aura gelap, dan siap membuang kamu kapanpun dimanapun kalau kamu tidak nurut.
Karena diamku selama ini bukan tanda tidak peduli — tapi tanda bahwa aku menahan diriku agar bisa melihatmu berkembang dan tidak melukaimu dengan kata-kata.
Dan ketika aku akhirnya bicara,
aku bicara panjang, dalam, dan tajam.
Supaya kamu paham betapa kamu membuatku kesal dan frustasi selama ini.
2. Tentang Siapa yang Benar-Benar Peduli
“Kamu baik sama orang, sangat baik. Tapi saat kamu susah, siapa yang nolong kamu? Aku.”
Ini bukan bentuk kesombongan, pamer, perhitungan, dan/atau mau minta balasan.
Ini bentuk realitas.
Agar kamu sadar, mereka itu tidak benar-benar berguna.
Mereka seperti “tim hore-hore”, tidak terlalu berfungsi saat kamu pusing dan/atau dalam kesulitan yang nyata.
Kamu terlalu sibuk berbuat baik ke semua orang,
padahal yang benar-benar menolongmu di saat terpuruk adalah: (SFX:”taraaa….”) aku.
Aku tidak melarang kamu menolong orang lain.
Aku hanya ingin kamu sadar,
bahwa tidak semua orang yang kamu bantu akan ada saat kamu butuh, tidak semua orang akan menolongmu saat kamu jatuh, dan tidak semua orang akan memperlakukanmu dengan baik ketika kamu ada di bawah mereka.
(Masih mau berbuat baik kepada orang lain tanpa alasan/hak/kewajiban? Gpp, release me).
Jika kamu berbuat baik terlalu random, kamu bahkan akan berbuat baik (menguatkan) musuhmu sendiri, orang yang akan menginjakmu, dan mungkin orang yang akan mendorongmu masuk ke jurang dimana tidak ada jalan keluar dari sana.
(Mau? Monggo…RELEASE ME!!!)
Kadang aku melihat kamu habis-habisan untuk orang lain,
sementara aku — yang selalu ada — kamu abaikan, kamu anggap aku akan “fine” (baik-baik saja) melihat kamu lebih baik ke orang dan lebih peduli dengan perasaan orang lain daripada aku?
Lucu, bukan?
Kamu rela kehilangan dirimu sendiri demi orang yang tidak akan menoleh saat kamu jatuh, atau bahkan mungkin justru akan menjadi sumber kejatuhanmu, sumber kehancuranmu.
(Gpp? Ok, RELEASE ME!!!)
Aku tidak butuh kamu menyembahku, menganggap aku selalu benar, dan/atau menghamba padaku. NO.
Aku cuma butuh kamu sadar, dunia tidak seindah film korea atau film india:
aku bukan orang asing.
Aku bagian dari hidupmu.
Dan jika ada manusia di dunia ini yang ingin kamu bahagia, happy, sehat, tenang, dan senang, itu aku.
Jadi, gak usahlah kamu repot mikirin kesusahan orang lain, tangisan orang lain, beban hidup orang lain, hidup nikmati hidupmu sendiri saja.
Jalani dengan kesenangan dan ketenangan yang ada.
3. Tentang Drama Korea dan Dunia Palsu
“Berhenti nonton drama Korea. Untuk apa?”
Kamu tahu aku sering bercanda soal itu,
tapi di balik candaanku ada sedikit getir yang serius.
Karena aku lihat kamu habiskan waktu berjam-jam menonton kisah palsu,
tentang cinta yang dibuat indah dengan naskah dan kamera,
tentang laki-laki sempurna yang bahkan tidak nyata (mukanya aja oplas, apanya yang gak palsu?).
Sementara di dunia nyatamu,
ada aku —
yang tidak kelihatan sempurna,
yang tidak punya musik latar romantis setiap kali aku cebok,
tapi selalu berusaha membuatmu bahagia. Selalu berusaha (kadang berhasil kadang tidak)
Aku tidak membencimu karena itu,
aku cuma sedih.
Karena kamu lebih menikmati ilusi yang penuh kepalsuan daripada kenyataan yang ada di depanmu yang selalu berusaha keras mencintaimu dan menyenangkanmu.
4. Tentang Prioritas yang Mulai Kabur
“Prioritasmu yang mana? Orang lain atau aku?”
Aku tahu kamu punya hati besar.
Aku tahu kamu suka menolong orang.
Tapi kadang kamu lupa,
bahwa ketika kamu terus membagi perhatianmu ke semua orang,
yang paling dekat denganmu justru kehilangan tempat, waktu, dan momen.
Aku tidak minta diprioritaskan setiap waktu.
Aku cuma ingin tahu,
bahwa ketika aku ada di sisimu,
kamu benar-benar “hadir”, ada untuk aku dan aku seorang.
Bukan setengah hati.
Bukan sambil main HP.
Bukan sambil mikirin orang lain atau malah peduli sama orang lain.
(Siapa aku?)
Aku ingin kamu tahu:
aku tidak ingin membatasi duniamu,
aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tahu mana yang lebih pantas kita hargai dan kita pedulikan.
(aku nggak selamanya di sini lho, siapkah kamu jika aku tidak ada?)
5. Kadang Aku Ingin Melepaskanmu
“Kadang ya, aku gak main-main, aku pengen banget ngebuang kamu…”
Kalimat itu jujur.
Dan mungkin kejam di telinga kamu.
Tapi kamu tahu?
Itu bukan karena aku benci kamu,
tapi karena aku ingin kamu merasakan dunia nyata tanpa aku.
Biar kamu tahu,
dunia itu tidak seindah saat kamu bersamaku.
Tidak semengena nasihatku.
Tidak seaman saat bersamaku.
Aku ingin kamu tahu,
betapa kerasnya dunia ketika kamu tidak punya seseorang yang benar-benar peduli padamu.
Tapi di saat yang sama, aku juga tahu…
kalau aku benar-benar melepaskanmu,
aku juga yang akan kehilangan, karena mau diakui atau tidak, aku mencintaimu.
Tapi mungkin itu lebih baik daripada aku harus melihatmu menghancurkan dirimu sendiri, merusak masa depanmu sendiri, dan menggelapkan cahaya yang ada dihatimu, hanya karena kamu bodoh dan terlalu percaya pada “kebaikan” manusia. (Nice)
6. Aku Bisa Kejam, Tapi Aku Tidak Pernah Benar-Benar Benci
Kamu tahu kenapa aku bisa berkata kejam?
Karena aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh.
Cinta yang jujur tidak selalu terdengar manis —
kadang terdengar kasar, kata yang tajam, tapi niatnya tulus.
Aku tidak ingin kamu sempurna,
aku hanya ingin kamu sadar.
Aku ingin kamu tumbuh.
Aku ingin kamu berhenti menghancurkan dirimu sendiri.
Kalau aku tidak peduli, aku tidak akan bicara.
Aku akan diam dan membiarkanmu tenggelam.
Tapi aku bukan tipe yang bisa pura-pura tidak peduli terlalu lama.
Jadi kalau aku marah, kalau aku keras, kalau aku berkata kejam —
ingatlah satu hal:
aku masih di sini.
Dan selama aku masih di sini, berarti aku masih mencintaimu dan masih percaya kamu bisa menjadi lebih baik (setidaknya untuk dirimu sendiri).
7. Penutup: Cintaku Tidak Hilang, Aku Hanya Lelah
Mungkin aku lelah.
Mungkin aku bosan.
Mungkin aku sedang muak dengan semua hal yang berulang.
Tapi di antara semua itu,
aku tetap tidak bisa membencimu sepenuhnya, aku tidak bisa mencampakkanmu begitu saja.
Karena cinta yang tulus tidak hilang hanya karena marah.
Dia hanya tertidur di balik amarah,
menunggu saatnya untuk bangun lagi.
“Release me, buang aku, lepaskan aku…”
Aku selalu akan bilang begitu ketika aku kesal dan/atau frustasi terhadapmu, dan jika kamu bosan, tidak butuh aku lagi, buang saja aku,
cari penggantiku.
Aku ikhlas dan ridha kok.
Kamu akan sadar…
yang paling kejam dan ketus dariku pun,
masih lebih lembut dan aman daripada setan dunia luar yang sesungguhnya.
P.S.
Mau coba dunia tanpa aku?
LoL, go on, try it…


























