Apa Sih Fungsi Kapur Barus? Berbahaya untuk Kesehatan Tidak?

Penasaran dengan fungsi kapur barus dan apakah penggunaannya aman bagi kesehatan?
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap manfaat, risiko, serta tips pemakaian kapur barus di kamar mandi agar tetap nyaman dan sehat.


Kapur barus, atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan camphor, adalah salah satu benda yang mungkin kita lihat setiap hari tanpa benar-benar memahami fungsinya.
Biasanya berbentuk bulatan atau kubus berwarna putih, dengan aroma yang khas—mirip seperti bau antiseptik atau mint yang agak menyengat.

Sebagian orang menganggap kapur barus semata-mata sebagai pengharum ruangan, terutama di area kamar mandi.
Tapi tahukah kamu, ternyata kapur barus punya sederet fungsi lain yang sering kita lewatkan?

Nah, dalam artikel kali ini, kita akan mengupas tuntas: apa sih kapur barus itu, mengapa sering dipasang di kamar mandi, apakah berbahaya untuk kesehatan, dan berapa banyak yang sebaiknya dipakai?


1. Mengenal Kapur Barus: Sejarah & Asal-Usul Singkat

Sebelum masuk ke manfaat dan risikonya, mari kita kenali dulu asal-usul kapur barus.
Kapur barus berasal dari getah kayu pohon Dryobalanops aromatica, spesies pohon yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, khususnya di daerah Sumatera, Borneo (Kalimantan), dan beberapa area di Malaysia.
Pada zaman dahulu, kapur barus sangat bernilai—bahkan sempat menjadi komoditas perdagangan yang mahal.
Bayangkan, di era Jalur Sutra, kapur barus ini sempat diekspor besar-besaran ke Timur Tengah dan Eropa.

Dalam perkembangannya, teknologi modern pun berhasil memproduksi kapur barus sintetis, bukan lagi murni dari getah pohon.
Bentuknya pun beragam—mulai dari tablet kecil hingga blok berwarna putih yang gampang hancur.
Aroma kuatnya inilah yang sering dimanfaatkan, terutama di rumah-rumah.

Fun Fact:
Di beberapa tempat, kapur barus juga dipakai dalam ritual adat atau keagamaan.
Baunya yang menyengat dianggap bisa menetralkan aroma tak sedap atau bahkan dianggap mengusir hal-hal negatif.


2. Fungsi Utama Kapur Barus

a. Pengharum & Penetral Bau

Fungsi paling umum yang kita kenal tentu saja sebagai pengharum ruangan.
Baunya yang khas dan kuat efektif menutupi bau-bau tak sedap.
Kamar mandi adalah salah satu tempat paling lazim ditempatkan kapur barus.
Kadang, kapur barus juga disimpan di lemari pakaian untuk mencegah bau apek dan menjaga kelembapan.

b. Pengusir Serangga

Aroma kapur barus yang kuat sering diyakini dapat mengusir serangga seperti kecoa, semut, hingga ngengat (terutama di lemari).
Banyak orang meletakkan beberapa butir kapur barus di sudut-sudut ruangan atau lemari untuk mencegah serangga berkembang biak.

c. Bahan Campuran Produk Kesehatan (Versi Medis)

Dalam dunia medis, camphor kadang dipakai sebagai bahan salep atau minyak gosok untuk meredakan nyeri otot dan sendi.
Sensasi hangat yang dihasilkan efektif untuk mengurangi pegal-pegal.
Tentu saja, penggunaannya sudah diolah sedemikian rupa dan dicampur dengan bahan lain, sehingga aman untuk kulit. (Tapi, jangan mentang-mentang aman dan punya kapur barus di rumah, langsung dihancurkan untuk dioles ke kulit, ya. Itu bukan ide bagus!)

d. Salah Kaprah: Menyerap Lembap?

Ada anggapan populer bahwa kapur barus dapat menyerap kelembapan berlebih di ruangan.
Padahal, kapur barus lebih berfungsi untuk menyamarkan bau daripada benar-benar menyerap kelembapan.
Kalau mau mengurangi kelembapan, kita butuh dehumidifier atau sirkulasi udara yang baik.


3. Apakah Kapur Barus Berbahaya untuk Kesehatan?

Nah, pertanyaan ini sering muncul. Kita tentu saja khawatir, “Kok baunya kenceng banget, aman nggak ya kalau terhirup setiap hari?
Yuk, kita bahas lebih detail.

a. Kandungan Kapur Barus & Dampak pada Tubuh

Kapur barus memiliki senyawa aktif camphor (C₁₀H₁₆O). Baunya kuat dan mudah menguap (volatile).
Ketika menguap, senyawa ini bercampur dengan udara dan terhirup oleh kita.
Dalam jumlah kecil, sebenarnya tubuh masih bisa menoleransi.
Namun, jika kadarnya terlalu tinggi atau ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang memadai, bisa memicu reaksi seperti pusing, mual, atau sesak napas pada orang yang sensitif.

b. Batas Aman Paparan

Menurut beberapa sumber medis, Exposure limit untuk camphor biasanya ditetapkan di angka sekitar 2 mg/m³ (ACGIH TLV—Threshold Limit Value).
Artinya, paparan dalam jumlah lebih dari itu (secara terus-menerus) bisa berdampak negatif pada kesehatan.
Namun, ini juga bergantung pada seberapa besar ventilasi ruangan dan seberapa banyak kapur barus yang dipakai.

Intinya, kalau kamu pakai satu atau dua butir kecil di kamar mandi yang lumayan terbuka, kemungkinan besar aman-aman saja.
Tapi kalau kamu menaruh banyak sekali kapur barus dalam ruangan sempit dan tertutup rapat, hati-hati ya, sobat.
Bisa saja kadar uapnya meningkat dan bikin pusing.

c. Risiko Jika Tertelan atau Terpapar pada Kulit

Jangan sampai tertelan, apalagi kalau ada anak kecil di rumah.
Kapur barus terlihat seperti permen putih, jadi rawan tertelan oleh balita.
Tertelan kapur barus bisa menyebabkan gangguan pencernaan, muntah, dan bahkan keracunan serius.
Maka, selalu simpan di tempat yang tidak terjangkau anak-anak.

Pada kulit, kapur barus sebenarnya tidak terlalu berbahaya kalau terpapar sedikit, tapi sebaiknya hindari kontak langsung, terutama pada kulit yang sensitif atau terluka.
Camphor murni bisa mengiritasi kulit.

d. Paparan Jangka Panjang

Penggunaan kapur barus dalam jangka panjang di area tertutup dan tidak berventilasi bisa memicu efek seperti pusing ringan, iritasi pada mata atau hidung, dan pada kasus langka, bisa mengganggu pernapasan.
Namun, hal ini jarang terjadi kalau kita pakai secukupnya. Kuncinya, aturan pakai yang wajar dan sirkulasi udara yang baik.


4. Apakah Kamar Mandi Harus Pakai Kapur Barus?

a. Manfaat di Kamar Mandi

  • Mengurangi Bau Tak Sedap:
    Kamar mandi sering lembap dan rentan bau.
    Kapur barus membantu menutupi bau sekaligus memberi sensasi segar (meski kadang baunya cukup menyengat).
  • Membantu Mengusir Serangga:
    Sebagian dari kita pasti pernah melihat kecoa nongkrong di kamar mandi. Nah, aroma camphor ini bisa jadi salah satu cara untuk meminimalisir kehadiran mereka.

b. Tidak Wajib, Tapi Boleh

Apakah harus pakai kapur barus? Jawabannya: nggak wajib.
Banyak cara untuk mengurangi bau tak sedap di kamar mandi, misalnya ventilasi yang bagus, menaruh pewangi atau pengharum ruangan lainnya, hingga rutin membersihkan area selokan.

Namun, kapur barus adalah solusi praktis dan murah yang sudah turun temurun dipakai.
Kalau kamu memang suka aromanya dan tak punya masalah kesehatan terkait pernapasan, silakan saja.

c. Berapa Banyak Kapur Barus yang Sebaiknya Dipakai?

  • Kamar Mandi Berukuran Kecil:
    Satu atau dua butir (atau satu bola) kapur barus sudah cukup. Letakkan di sudut yang tidak terkena air langsung.
  • Kamar Mandi Besar:
    Mungkin kamu bisa pakai 2-3 butir.
    Disesuaikan juga dengan sirkulasi udara. Kalau ada exhaust fan, aroma kapur barus akan cepat berkurang.
  • Tips:
    Daripada menaruh banyak sekaligus, lebih baik ganti secara berkala.
    Kapur barus bisa habis menguap dalam 2-4 minggu, tergantung kondisi kelembapan dan suhu ruangan.

d. Bagaimana dengan Toilet Duduk?

Beberapa produk kapur barus didesain khusus untuk ditempel di pinggiran toilet duduk, fungsinya mirip pengharum toilet.
Pastikan produk tersebut memang dibuat untuk toilet, dan jangan lupa mengecek apakah aman bagi saluran pembuangan.
Terkadang, bahan kimia tertentu bisa merusak pipa atau septic tank.
Baca label kemasan, ya!


5. Tips Aman Menggunakan Kapur Barus

  1. Jangan Berlebihan
    Sedikit kapur barus sudah cukup untuk memberikan aroma segar.
    Terlalu banyak justru membuat udara jadi berat dan malah bisa bikin pusing.
  2. Ventilasi yang Baik
    Meskipun untuk kamar mandi, usahakan ada ventilasi atau exhaust fan.
    Ini membantu sirkulasi udara, sehingga uap camphor tidak menumpuk.
  3. Jauhkan dari Jangkauan Anak-anak
    Ingat, bentuknya mirip permen. Taruh di tempat yang tinggi atau tersembunyi.
    Apalagi kalau ada balita yang suka penasaran dengan benda mungil.
  4. Ganti Secara Berkala
    Kapur barus yang sudah lama dan mengecil sebaiknya diganti.
    Kadang sisa-sisanya yang kecil malah bisa tercecer dan berpotensi tertelan anak atau hewan peliharaan.
  5. Perhatikan Ruangan Tertutup
    Kalau kamar mandi atau ruanganmu cenderung kedap udara, pertimbangkan untuk menggunakan kapur barus secukupnya atau gunakan pewangi alternatif yang tak terlalu menyengat.

6. Kapur Barus untuk Lemari Pakaian: Aman atau Tidak?

Mungkin kamu pernah menaruh kapur barus di lemari pakaian untuk menjaga agar pakaian nggak berbau apek atau diserang ngengat.
Ini sah-sah saja, asalkan:

  • Ventilasi Lemari:
    Ajak lemarimu bernapas sesekali, alias buka pintu lemari.
    Jangan biarkan kapur barus terkurung di dalam ruangan sempit tanpa sirkulasi udara.
  • Jauhkan dari Baju Langsung:
    Taruh kapur barus di wadah kecil atau bungkus jaring.
    Jangan menempelkannya langsung di pakaian karena bisa meninggalkan noda atau bau menyengat yang susah hilang.
  • Perhatikan Jumlah:
    Satu atau dua butir kecil di setiap sudut lemari sudah cukup.
    Jangan tabur segenggam kapur barus, ya, nanti malah bikin pusing pas buka lemari.

7. Alternatif Pengganti Kapur Barus

Jika kamu tidak nyaman dengan bau kapur barus atau khawatir tentang dampak kesehatannya, berikut beberapa alternatif:

  1. Pewangi Ruangan Alami:
    Gunakan potpourri (campuran bunga kering dan rempah) atau essential oil diffuser.
    Aromanya mungkin lebih lembut dan alami.
  2. Karbon Aktif (Activated Carbon):
    Bisa membantu menyerap bau tanpa menguarkan bau menyengat.
    Cocok untuk ruangan yang butuh deodorisasi.
  3. Soda Kue (Baking Soda):
    Menyerap bau tak sedap, cukup letakkan di wadah terbuka di sudut ruangan atau kulkas.
    Meski biasa dipakai di dapur, bisa juga dipakai di kamar mandi.
  4. Desiccant Silica Gel:
    Untuk area lemari yang lembap, silica gel bisa menyerap kelembapan berlebih sehingga pakaian tak cepat bau apek.

8. Kapur Barus dan Kepercayaan Tradisional

Di beberapa daerah, kapur barus bukan hanya dipandang sebagai pengharum atau pengusir serangga, tapi juga kental dengan unsur kepercayaan dan ritual.
Contohnya:

  • Pemakaian di Acara Kematian:
    Beberapa tradisi Islam di Nusantara menggunakan kapur barus untuk memandikan jenazah.
    Aromanya dipercaya bisa menetralkan bau serta punya kesan “suci.”
  • Ritual Pengusir Roh Jahat:
    Mungkin kamu pernah dengar cerita bahwa “kalau ada makhluk halus, tabur kapur barus di sudut ruangan”.
    Entah ini mitos atau tidak, tapi di beberapa budaya, kapur barus diasosiasikan dengan ‘pembersihan spiritual’.

Kamu boleh percaya atau tidak.
Yang jelas, penggunaan kapur barus sangat beragam di masyarakat kita—mulai dari sekadar pengharum hingga simbol dalam acara adat.


9. Dampak Lingkungan

a. Bahaya Terhadap Hewan Peliharaan

Hati-hati kalau kamu punya kucing atau anjing di rumah.
Mereka suka penasaran dengan benda asing.
Kalau kapur barus tertelan, bisa menimbulkan efek keracunan serius.
Gejalanya meliputi muntah, diare, bahkan kejang-kejang.
Segera bawa ke dokter hewan kalau terjadi hal demikian.

b. Pembuangan Sisa Kapur Barus

Kapur barus biasanya habis menguap seiring waktu.
Namun, sisa-sisa kecilnya bisa tercecer.
Jangan buang sembarangan ke toilet karena dikhawatirkan dapat menyumbat.
Sebaiknya buang di tempat sampah—kalau bisa, bungkus dulu biar hewan liar tidak mengira itu makanan.


10. FAQ Seputar Kapur Barus

Q1. Apakah kapur barus sama dengan naphtalene ball (kapur naftalena)?
A1. Walau bentuknya mirip (biasa disebut juga “kamper” untuk naphtalene ball), sebenarnya berbeda.
Naphtalene ball mengandung napththalene yang juga digunakan untuk pengusir ngengat.
Kedua bahan ini punya aroma menyengat dan fungsi mirip, tapi komposisinya beda.

Kapur barus “asli” berasal dari camphor (C₁₀H₁₆O), sedangkan naphtalene ball dari naphtalene (C₁₀H₈).
Efeknya terhadap kesehatan juga mirip—terlalu banyak naphtalene bisa berbahaya.

Q2. Bagaimana cara mengatasi bau kapur barus yang terlalu kuat?
A2. Pastikan ruangan/kamar mandi berventilasi.
Jika masih menyengat, kurangi jumlah kapur barus.
Kamu juga bisa menaruh kapur barus di wadah tertutup dengan beberapa lubang kecil, sehingga baunya keluar sedikit demi sedikit.

Q3. Berapa lama kapur barus bertahan?
A3. Biasanya 2-4 minggu, tergantung suhu dan kelembapan.
Di tempat yang panas dan lembap, kapur barus cepat habis menguap.
Kalau sudah habis, cukup buang sisa-sisanya dan ganti yang baru.

Q4. Kapur barus bisa dipakai untuk meredakan nyeri otot?
A4. Jangan langsung pakai kapur barus murni!
Untuk urusan nyeri otot, gunakan salep yang sudah diformulasi dengan camphor.
Salep ini aman untuk kulit dan takaran camphor-nya sudah diatur.



Kesimpulan Akhir: Menggunakan Kapur Barus dengan Bijak

Kapur barus memang praktis sebagai pengharum kamar mandi dan pengusir serangga.
Baunya yang kuat bisa menetralkan bau tidak sedap, sekaligus memberikan sensasi segar.

Namun, kita tetap harus berhati-hati agar tidak berlebihan.
Paparan camphor dalam jumlah berlebihan bisa memicu pusing, mual, hingga gangguan pernapasan, terlebih pada anak-anak dan orang yang sensitif.

Jadi, haruskah kamar mandi pakai kapur barus?
Itu kembali ke preferensi masing-masing.
Tidak wajib hukumnya.
Namun, kalau kamu suka aroma kapur barus dan butuh cara murah untuk menjaga kamar mandi tetap harum, silakan saja.
Pastikan saja kamu memperhatikan ventilasi, jumlah kapur barus, dan tentu saja faktor keamanan (apalagi kalau ada anak kecil di rumah).

Pesan moral: Seperti halnya apa pun di dunia ini, kunci utamanya adalah keseimbangan.
Manfaatkan kapur barus sewajarnya, jangan berlebihan, dan selalu utamakan keselamatan diri serta keluarga.
Kalau semua sudah sesuai porsinya, kapur barus akan menjadi sahabat baik untuk menjaga rumahmu tetap wangi dan bebas serangga.

P.S. Jangan dilempar ke orang yang bau badan ya (LoL).

Link Pembelian Kapur Barus Kamar Mandi Merek Swallow

Terima Kasih atas kunjungan dan komentarnya di NKRI One

Most Read
Scroll to Top