Ketika perasaan negatif menghalangi amanah yang diberikan, ingatlah bahwa tanggung jawab kita adalah bagian dari Rencana Tuhan.
Bagaimana cara menyingkirkan rasa malas, eneg, dan muak untuk tetap menjalankan apa yang sudah diamanahkan?
Temukan jawabannya di sini!
Ada kalanya kita merasa jenuh, muak, atau bahkan marah pada situasi yang menuntut kita melakukan hal-hal di luar kenyamanan.
Apalagi kalau kita merasa “Ini pekerjaan bukan gw banget!” atau “Kenapa harus aku yang disuruh ngerjain ini? Emang nggak ada orang lain?”
Padahal, kalau dipikir dari perspektif iman (khususnya dalam versi agama Islam selaku hamba Allah), seringkali tanggung jawab itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah amanah yang—mau tidak mau—membawa kita satu langkah lebih dekat pada realisasi Rencana Tuhan.
Terdengar besar dan mungkin sedikit “horor,” karena ada sentimen “Tuhan menugaskan kita sesuatu” yang sebenarnya bikin kita merinding.
Namun, di balik itu semua, yakinlah bahwa Allah tidak asal memberikan beban kepada hamba-Nya.
Kalau kita disuruh untuk melakukan sesuatu yang penting, artinya kita punya kapasitas untuk menanggungnya.
Bahkan, bisa jadi kita merupakan “The Last Resort” alias satu-satunya orang yang mampu menuntaskan misi tersebut.
Mungkin ini terdengar agak dramatis, tapi ada benarnya juga, bukan?
(Kalau ada orang lain, please maju, replace me, hahahahaha, aku mau main game dan malas-malasan)
Mari kita kupas habis tentang perasaan negatif yang bikin kita ogah-ogahan menjalankan amanah, hingga alasan kenapa kita sebenarnya nggak boleh menggagalkan Rencana Tuhan hanya karena ego dan emosi sesaat.
1. Memahami Konsep “Rencana Tuhan”
a. Tuhan Tahu yang Terbaik
Banyak orang bilang, “God works in mysterious ways”, alias kadang Rencana Tuhan itu sulit ditebak.
Kita sedang merasa nyaman, ngelamun-ngelamun jorok, eh tiba-tiba dibebani tanggung jawab baru.
Kita sedang fokus di satu project, malah disuruh handle project lain yang sama sekali berbeda.
Pertanyaannya, kenapa harus kita?
Jawabannya simpel: Karena Tuhan tahu kapasitas kita.
Dalam konteks Islam, kita sering dengar ayat,
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(Q.S. Al-Baqarah: 286).
Jadi kalau memang kita dipilih untuk tugas yang kita benci setengah mati, kemungkinan besar kita memang mampu—meski butuh usaha keras (especially, melawan ego dan harga diri).
b. Rencana yang Lebih Besar dari Sekadar Kehendak Pribadi
Terkadang, kita mikir cuma pada skala diri sendiri: “Gw males banget”, “Ini tidak akan menyenangkan (It is not fun)”, atau “Kerjaan macam apa ini?”
Padahal, di balik satu tugas itu bisa jadi ada efek domino.
Mungkin saja pekerjaan itu menyangkut kehidupan orang banyak, bahkan sesuatu yang bernilai kebaikan seperti menyelamatkan beberapa hidup (kehidupan) orang dalam sekali sapu (in one fell swoop).
Kalau kita menolak atau setengah hati, yang kena dampaknya bukan cuma diri sendiri, tapi banyak pihak.
Karena itulah, kita nggak boleh mengacaukan Rencana Tuhan cuma gara-gara alasan personal seperti males, eneg, atau sekadar merasa gengsi.
2. Mengapa Perasaan Negatif Muncul?
a. Egomu Terluka
Jujur aja, ego sering jadi sumber masalah.
Misalnya, “Aku kan mau hidup yang lurus, nggak mau belok lagi” atau “Lah, itu para Jagoan Neon, pada kemana?”,
Saat ego menempel ketat pada diri, kita lupa bahwa mungkin saja tugas “remeh” itu adalah jalan yang Allah kehendaki untuk kita jalani, koneksi baru yang Allah kehendaki untuk kita, dan/atau malah Guru baru dalam hidup kita.
b. Rasa Takut Gagal
Kadang, yang bikin kita malas sesungguhnya adalah takut gagal.
Kita khawatir fitnah orang, takut hasilnya nggak sesuai ekspektasi.
Karena takut merusak citra (yang gak penting-penting amat sih), kita lebih memilih mundur.
Padahal, kalau Rencana Tuhan sudah menempatkan kita di sana, kemungkinan besar ada “jaminan” bahwa kita mampu menyelesaikan tugas itu—tentu dengan kerja keras dan izin-Nya.
c. Bosan dan Jenuh
Tak bisa dihindari, tugas yang menumpuk atau rutinitas yang berulang bisa menimbulkan rasa jenuh.
Kita pun secara otomatis menolak beban baru karena berpikir, “Ah, hidupku udah cukup ribet”.
Tapi jenuh bukan alasan untuk lari dari amanah.
3. Dampak Meninggalkan Tanggung Jawab
Menolak amanah yang sudah jelas di depan mata bisa berdampak buruk—bukan hanya secara spiritual, tapi juga sosial dan psikologis.
- Merugikan Orang Lain
Kalau tugas itu sifatnya krusial dan cuma kita yang bisa, menolaknya bisa bikin keseluruhan rencana berantakan.
Orang lain pun jadi terdampak. - Menimbulkan Rasa Bersalah
Meski awalnya kita merasa lega karena nggak perlu repot, perlahan-lahan rasa bersalah akan muncul.
Apalagi kalau kita melihat akibat nyata dari penolakan kita. - Menghambat Pertumbuhan Diri
Tiap tanggung jawab baru sebenarnya adalah kesempatan untuk bertumbuh.
Menolaknya berarti menutup pintu belajar dan mengasah kemampuan. - Mengusik Ketenangan Hati
Sebagai hamba Allah, kita mungkin merasa ada yang ‘salah’ ketika mengabaikan amanah.
Intuisi spiritual a.k.a. Bashirah akan mengatakan, “Hanya kamu yang bisa kok”
4. Menjaga Amanah di Tengah Rasa Enggan
Sebelum memutuskan untuk “kabur” dari tanggung jawab, coba renungkan:
- Niatkan Sebagai Ibadah
Ketika kita berniat menyelesaikan tugas karena Allah, apapun bentuknya, insyaAllah kita dapat pahala.
Tugas kantor, keluarga, organisasi, hingga tugas kemanusiaan, semuanya punya nilai jika kita niatkan untuk kebaikan karena Allah semata. - Fokus pada Tujuan Jangka Panjang
Mungkin kita benci dengan detailnya, tapi coba lihat gambaran lebih besar.
Apa sih tujuan akhir dari pekerjaan ini?
Apakah berdampak besar bagi masyarakat, atau minimal bagi keluarga kita sendiri?
Bisa menyelamatkan nyawa dan/atau kehidupan berapa orang? - Jangan Remehkan Hal “Kecil”
Beberapa tugas kelihatan sepele, padahal kalau dikerjakan dengan benar, hasilnya bisa luar biasa.
Jangan sampai kita jadi orang yang menyesal belakangan karena meremehkan sesuatu yang ternyata vital.
5. Menyeimbangkan Rasa, Logika, dan Spiritual
Kita nggak bisa menafikan bahwa kita punya perasaan.
Sebagai hamba Allah, kita masih manusia biasa yang bisa benci, muak, eneg, atau malas.
Tetapi, kita juga punya logika dan jiwa spiritual yang harus dikedepankan:
- Rasa:
Validasi emosimu.
Nggak apa-apa kok kalau kita merasa capek atau sebel.
Itu manusiawi.
Justru membohongi diri sendiri dengan berkata “Saya senang dan bahagia selalu” padahal stres kesal luar biasa, bukan merupakan hal yang baik untuk dilakukan.
(Ingat, hamba Allah tidak boleh bohong) - Logika:
Setelah menenangkan emosi, gunakan logika.
Apakah ada cara lebih efisien untuk menyelesaikan tugas?
Bisakah kita minta bantuan rekan lain?
Apakah ada deadline atau prosedur (SOP) yang harus diikuti? - Spiritual:
Ingat bahwa kita adalah hamba Allah.
Tanggung jawab datang bukan kebetulan.
Mungkin ini jalan untuk “mengumpulkan poin kebaikan (good deeds)” atau semakin mendekatkan kita pada Allah.
Memang sering kali jalannya berliku, tapi hasil akhirnya pasti mengandung hikmah.
6. “You Are the Last Resort” – Kenapa Harus Kamu?
Kita sering menyepelekan potensi diri, padahal bisa jadi Tuhan memberikan tugas ini karena memang cuma kita yang bisa menyelesaikannya.
Boleh jadi karena:
- Keahlian Spesifik
Mungkin kita punya skill yang orang lain nggak punya.
Atau minimal, kita punya kombinasi pengetahuan (skill set) yang jarang ditemukan. - Kekuatan Mental yang Cukup
Meski kita suka mengeluh, sebenarnya mental kita lebih kuat daripada yang kita sadari.
Kita sanggup menghadapi tekanan tinggi dan masih bisa tertawa di tengah bencana besar.
(Kind of crazy, if I must say.) - Pengalaman Hidup
Seberapa sering kita ketemu situasi mirip di masa lalu?
Itu jadi modal untuk menuntaskan tanggung jawab sekarang.
Orang lain mungkin belum punya pengalaman serupa. - Cobaan untuk Menaikkan Level
Dalam istilah game, kita berada di “level up stage”.
Tuhan meletakkan kita di situasi sulit supaya kita naik kelas.
Kalau kita kabur, gak jadi naik level kakak (LoL).
7. Tips Mengatasi Perasaan Negatif Saat Mengemban Amanah
- Berdoa Minta Pertolongan
Ini kunci utama bagi hamba Allah.
Berdoa secara tulus bisa menenangkan hati yang gelisah.
Terkadang jawaban doa datang dalam bentuk ketenangan pikiran atau datangnya bantuan tak terduga. - Curhat dengan Orang Terpercaya
Jika tekanan terlalu besar, jangan dipendam sendiri.
Ngobrol dengan teman, mentor, atau keluarga.
Bukan untuk mengeluh tanpa solusi, tapi untuk melihat sudut pandang baru. - Pisahkan Masalah Personal dan Profesional
Ingat, ketidaksukaan kita pada orang tertentu atau situasi tertentu jangan sampai bikin kita menolak tugas yang sebenarnya penting.
Belajar memisahkan emosi personal dari tanggung jawab profesional. - Cari Sisi Positif
Seberat apa pun tugasnya, pasti ada aspek positif.
Misalnya, skill baru yang akan kita pelajari, relasi baru, atau bahkan pola pikir baru. - Atur Waktu dan Energi
Malas sering muncul karena lelah.
Pastikan kita menjaga pola makan, tidur cukup, dan punya waktu rehat.
Jangan memaksa diri lembur terus-menerus sampai stres akut. - Buat Target Kecil dan Bertahap
Tanggung jawab besar bikin kita kewalahan.
Coba pecah jadi target-target kecil.
Tiap kali kita mencapai milestone, rasanya akan menjadi lebih lega dan menambah semangat.
8. Apa yang Terjadi Kalau Kita Bersikeras Melawan?
“Aku malas, muak, dan benci, pokoknya nggak mau ngerjain!”
Misalnya kita bersikeras menolak, beberapa hal bisa terjadi:
- Orang Lain Harus Menanggung Beban Kita
Kalau kita lepaskan tanggung jawab itu, mau nggak mau orang lain yang nggak siap harus menangani.
Bisa bikin suasana jadi makin runyam. - Rencana Lebih Besar Berpotensi Gagal
Mungkin kita cuma segelintir puzzle, tapi puzzle itu krusial.
Tanpa kita, Rencana Tuhan atau rencana tim besar bisa berantakan.
Kelihatannya sepele, tapi dampaknya besar. - Kerugian di Akhirat
Dalam perspektif Islam, meninggalkan amanah itu berat pertanggungjawabannya di akhirat. Ketika kelak ditanya, “Kenapa tidak kau lakukan?”
Apakah kita mau menjawab, “Saya males, Ya Allah” ? T_T
Nggak mau, kan? - Dihantui Penyesalan
Biasanya, kita akan menyesal ketika melihat dampak negatif dari pilihan kita yang salah.
Rasa bersalah ini bisa muncul setiap kali kita mengingat kejadian tersebut.
9. Refleksi Akhir: Jangan Menolak Rencana Tuhan
Kalau kita pikir-pikir, menolak amanah bukan sekadar menolak perintah kerja , misi, dan/atau tugas, tapi juga menolak potongan skenario yang mungkin Allah tetapkan untuk kebaikan kita.
Ibaratnya, kita sedang membakar jembatan yang menghubungkan kita dengan kesempatan baru—dan yang lebih penting, dengan kedekatan dengan Allah.
Renungkan:
Seberat apa pun keadaan, bukankah kita lebih tenang kalau tahu ini bagian dari Rencana Tuhan yang maha sempurna?
Daripada memfokuskan diri pada rasa muak atau gengsi, kenapa nggak fokus pada bagaimana cara menyelesaikannya sebaik mungkin, lalu menunggu ‘buah manis’ dari ketaatan kita?
Semua ini kembali pada pilihan pribadi:
Apakah kita mau mengedepankan keinginan sendiri atau mengikuti Rencana Tuhan yang tak pernah meleset?
Kesimpulan: Rencana Tuhan Turuti Saja, Jangan Dibantah
Jangan mengacaukan Rencana Tuhan hanya karena kita sedang didera perasaan negatif, seperti malas, eneg, muak, atau gengsi.
Sebagai hamba Allah, sudah sepatutnya kita sadar bahwa tanggung jawab yang diberikan bukan tanpa alasan.
Bisa jadi, kitalah satu-satunya orang yang mampu menjalankannya.
Meski terasa berat, berusahalah memisahkan emosi pribadi dari nilai amanah itu sendiri.
Ingat, apapun perasaan kita saat ini—marah, bosan, muak—tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan tugas penting.
Ketika kita tetap teguh menjalankan amanah, walau hati sedang nggak mood, justru di sanalah letak pahala dan peluang kemajuan diri.
Biarlah emosi-emosi negatifmu mereda perlahan, dan gantikan dengan semangat “OK, I’ll do this!” yang menunjukkan bahwa kamu melakukan apapun untuk Allah, sebagaimana Dia mau memberikan apapun untukmu.
Menolak tanggung jawab bisa mencipta efek berantai yang merugikan, mulai dari menghambat rencana tim, merugikan orang lain, hingga mengakibatkan penyesalan berkepanjangan.
Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena lupa bahwa setiap amanah adalah bagian puzzle dalam Rencana Allah.
Toh, jika kita yang dipilih, artinya menurut Tuhan, kita pasti mampu.
Semoga Allah meridhai setiap usaha kita, memperkuat hati kita, dan mengarahkan kita untuk senantiasa berada di jalan yang dikehendaki-Nya.
Jangan pernah lupa, di sinilah kita benar-benar diuji: apakah kita bisa menundukkan ego, atau justru mengalah pada nafsu sesaat?
“You are the last resort—No body can do this but you.”
Selamat berjuang menuntaskan apa yang sudah diamanahkan.
Semoga kita semua tetap teguh di jalan-Nya. Aamiin.


























