Persimpangan Takdir dalam Kehidupan: Jangan Menyalahkan Tuhan

Hidup adalah rangkaian persimpangan takdir, setiap keputusan yang kita buat hari ini membuka pintu untuk masa depan yang berbeda. Begitu juga keputusan yang telah kita ambil di masa lalu, berperan penting dalam membentuk hidup kita yang sekarang.

Di setiap persimpangan takdir yang kita lalui, kita akan dihadapkan pada beberapa pilihan takdir yang akan menentukan jalan hidup kita. Beberapa pilihan mungkin akan membawa kita ke jalur hidup yang lebih mudah, sementara pilihan lainnya mungkin memandu kita ke jalur yang terjal penuh dengan tantangan.

Pada saat menghadapi berbagai persimpangan takdir itu, sebenarnya kita sendiri diharuskan mengambil keputusan dan memilih arah yang berdampak pada kehidupan kita kini dan nanti di masa depan.

Pernahkah anda menyalahkan Tuhan atas hasil dari pilihan anda sendiri?

Jangan ya kakak, karena Tuhan tidak bersalah dalam hal ini, karena takdir kita, kita sendiri yang menjalani dan sebenarnya kita sendiri yang memilihnya.

Pilihan Persimpangan Takdir

Setiap momen dalam hidup kita adalah persimpangan takdir, tempat di mana keputusan kita akan mempengaruhi jalannya hidup kita dan mungkin keluarga kita (jika punya) secara signifikan.

Misal, anda memutuskan untuk malas dan bodoh, maka anda akan menjadi beban/menyusahkan keluarga anda.

Sebaliknya, jika anda menjadi manusia yang rajin, pintar, dan sukses, maka anda akan menjadi penolong orang-orang yang membutuhkan bantuan anda, (Kalau anda mau menolong)

Setiap keputusan yang anda buat akan membawa konsekuensi dan tidak hanya akan mempengaruhi masa depan anda, tapi juga orang-orang yang takdirnya terikat pada anda.

Apakah kita akan memilih jalan yang baik dan mudah sebagai takdir hidup kita, lalu menyebutnya sebagai takdir yang baik, atau menyalahkan Tuhan karena takdir buruk yang merupakan hasil dari pilihan anda sendiri? .

Menuruti Nafsu, Logika, atau Hati Nurani?

Sepintar apapun manusia, mereka selalu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dan/atau menuruti salah satu dari ketiga hal yang menjadi dasar pikiran manusia, yaitu: Nafsu, Logika, dan/atau Hati Nurani.

Keputusan Menuruti Nafsu

Keputusan yang diambil berdasarkan dan/atau dengan menuruti nafsu, biasanya akan berakhir dengan air mata, yaitu mengarah ke jalan yang lebih sulit dan terjal.

Contoh kasus ini diantaranya adalah:

Ketika seseorang memutuskan menikah hanya karena nafsu, biasanya dia hanya akan mendapatkan cinta yang terselubung nafsu.

Berapa banyak orang menikah karena cinta biasa, cinta obsesi, cinta seragam, cinta SK (PNS), cinta wajah, dan/atau cinta harta?

Padahal cinta yang sejati itu tidak punya alasan, karena terlalu banyak alasan yang dapat dikemukakan sebagai sebab kita mencintai sesuatu atau seseorang.

Jika kita sudah mencintai, cintailah produk-produk Indonesia, (eh?), maksud saya, cintailah tidak hanya kelebihannya saja, tapi juga cintai kekurangannya.

Diantara semua jenis cinta itu, hanya 1 (satu) yang akan awet, lebih dari “sampai ajal memisahkan kita” awetnya, tanpa expired (kedaluwarsa), yaitu Cinta karena Allah.

Jadi result (hasil) dari pernikahan karena nafsu (alasan) duniawi dan pernikahan karena Allah, tentulah beda hasilnya.

Disclaimer:
Different results could occur because the original God’s servants are usually ferocious, but they stay docile under the suppressions of Allah.
And there are many fake God’s servants, including but not limited to satans and demons, and so does djinn and humans.

Former Bad Person

Oh, ada satu lagi keuntungan jika kalian saling mencintai karena Allah, kalian akan mendapatkan naungan gratis dari Allah di hari tidak ada naungan selain naungan Allah, sebagaimana tertulis dalam hadits berikut ini:

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
‘Tujuh golongan yang akan Allah naungi dengan naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya… (dan salah satunya adalah) dua orang yang mencintai satu sama lain karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah atas dasar itu.'”

Hadits Riwayat Abu Dawood (5125) dan At-Tirmidzi (2395)

Keputusan Berdasarkan Logika

JIka anda termasuk kategori orang yang pintar dan/atau cerdas, kemungkinan anda membuat takdir menurut logika dan kehendak anda sendiri adalah sangat tinggi.

Bagaimana rasanya membuat takdir sendiri?

Banyak penyesalan? (So do I)

Seiring dengan pengalaman hidup, kaum intelek, yang hobi mengutamakan logika di atas insting dan suara hati, pastinya memiliki beberapa penyesalan atas beberapa keputusan yang tidak diambil.

Hal itu dikarenakan, kalau kita berpikir menggunakan logika, akan banyak takutnya dan akhirnya tidak berani mengambil keputusan apapun, sehingga kesempatan untuk memilih takdir itu luput, tidak menjadi bagian dari hidup kita yang sekarang.

Waktu mengajarkan kita bahwa, logika tidak selalu benar, dan seiring bertambahnya usia, kita semakin bijak dalam mengambil keputusan, yang tidak hanya menguntungkan bagi kita saja, tapi juga mempertimbangkan perasaan orang yang secara takdir terlibat dalam hidup kita.

Keputusan Menuruti Hati Nurani

Di dunia ini, tidak ada orang yang lebih baik daripada seorang manusia yang seringkali memilih mendahulukan hati nuraninya, tapi menurut saya pribadi orang yang terlalu baik itu gimana ya, kurang etis kalau dikatakan, kita pakai istilah “tidak cerdas” saja ya.

Orang yang memilih takdir dengan menggunakan hati nurati, biasanya banyak mengalah, banyak berkorban, dan banyak menangis.

Contoh kasus:

Saya mengenal seorang wanita yang sangat baik sekali, dia rela memberi makanan dan/atau uangnya untuk orang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri.

Begitu saya mengetahui itu, bahwa dia berkorban untuk orang lain, saya katakan,

“kamu boleh berbuat baik sama orang lain, tapi jangan sampai memotong lengan(mu) sendiri untuk memberi makan orang yang tidak tahu terima kasih dan/atau tidak tahu diri”.

KEP

Sebelum menolong orang lain, ada baiknya setiap orang memikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu, karena orang yang kamu tolong belum tentu akan menolongmu suatu saat ketika kamu butuh pertolongan, bahkan ada sedikit kemungkinan dia malah akan menginjakmu ketika kamu terjatuh,

Ketika anda menolong seorang hamba Allah, dia akan membalas kebaikanmu dengan sesuatu yang setara atau bahkan yang lebih baik lagi.

That is a fact (itu adalah fakta), karena hamba Allah akan snantiasa (berusaha) mematuhi perintah Tuhannya, sesuai arahan Allah sebagaimana tercantum dalam surat An Nisa ayat (86) ini:

“ Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. “

(Q.S. An-nisa : 86)

Tapi jika kamu menolong hamba dunia atau malah hamba setan, maka dia akan terus merongrongmu (mendekati dan mengejarmu) dengan permintaan yang lama kelamaan malah jadi tuman (ketagihan) dan akan lambat laun merugikan bahkan membahayakan diri kamu sendiri.

Lalu, bagaimana ciri hambah Allah yang asli, yang pantas kamu tolong?

Ciri utama hamba Allah, adalah dia tidak akan meminta walau dia lapar, karena dia tahu akan larangan meminta-minta dari Allah dan Rasul-Nya sebagaimana termaktub dalam hadis Nabi Muhammad SAW ini:

Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung”

(HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042)

Ingat, kalaupun anda mempunyai kelebihan dalam harta, cek dulu orang yang menjadi tanggungan anda, apakah mereka masih merasa kurang dari sisi nafkah, karena mereka adalah tanggung jawab anda yang lebih layak dinafkahi daripada orang lain yang mengemis kepada anda.

Kesimpulan NKRI One

Dalam hidup ini, kita tidak bisa lari dari konsekuensi keputusan kita.

Pada akhirnya, kita akan diminta pertanggungjawaban atas setiap pilihan yang kita buat, baik di dunia ini maupun di akhirat.

Oleh karena itu, bijaksanalah dalam setiap keputusan yang Anda buat, karena setiap pilihan Anda hari ini akan menentukan takdir Anda di masa depan.

Salam NKRI One.

Terima Kasih atas kunjungan dan komentarnya di NKRI One

Scroll to Top
%d bloggers like this: